DOKTRIN ANAK PRINSIP-PRINSIP PENGASUHAN TAK BERSYARAT

DOKTRIN ANAK
PRINSIP-PRINSIP PENGASUHAN
TAK BERSYARAT





            Sebaiknya saya mengingatkan anda sejak sekarang : yang akan disajikan berikut bukanlah resep langkah demi langkah bagaiman membesarkan anak-anak yang baik. Pertama-tama, saya sendiri haruslah menjadi orangtua yang mendekati sempurna tapi saya bukan, sebelum berani meberikan kepada orang lain panduan pasti dan tanpa kegagalan untuk membesarkan anak-anak mereka. Kedua saya juga punya keraguan dengan kebijaksanaan  pendekatan seperti itu.
Secara spesifik pertanyaan utama kita seharusnya bukan, “bagaiman membuat anak saya melakukan apa yang saya katakana?” melainkan :apakah yang diperlukan anak saya-dan bagaimana saya bisa memenuhi  kebutuhan-kebutuhan itu.



           
        Inilah prinsip-prinsip tersebut secara keseluruhan:
1.        Bersikap reflektif
Orangtua terbaik adalah yang mawas diri dan bersedia bersusah payah. 

2.        Pertimbangkan kembali permintaan anda.
Dalam sebagian besar kasus, teknik-teknik itu melibatkan penguatan positif atau konsekuensi yaitu suap atau ancaman. Jika kita member anak-anak yang cukup sehat, apakah selalu p[erlu untuk memaksa mereka memakan sesuatu.

3.        Perhatikan selalu tujuan jangka panjang anda.
Andai kata sebagai missal, anda ingin anak anda tumbuh menjadi seorang a. beretika, b. bisa memelihara hubungan yang sehat, c. mempunyai sifat ingintahu secara intelektual, d. pada dasarnya puas dengan dirinya sendiri. Maka tugasnya adalah bertanya apakah setiap tujuan ini mungkin atau tidak mungkin  tercapai sebagai akibat penggunaan teknik-teknik penarikan cinta seperti waktu jeda, atau secara selektif menguatkan perilaku yang anda sukai, atau mengatakan (meskipun dengan tidak banyak kata) “karena saya adalah orangtua, itulah sebabnya sebenarnya apapun yang anda lakukan terhadap anak berdasarkan kebiasaan seharusnya dievaluasi dengan mempertimbangkan tujuan-tujaun akhir anda.

4.        Utamakan hubungan.
Dalam pengertian yang benar-benar praktis, perilaku lebih mudah ditangani dan lebih mudah diselesaikan apabila anak merasa cukup aman untuk menjelaskan alas an mereka melakukan sesuatu yang salah. Anak-anak lebih mungkin mendatangi kita ketika mereka berada dalam kesulitan, meminta nasehat kita, dan ingin meluangkan waktu dengan kita apabila mereka dibiarkan memilih untuk berbuat begitu. Selanjutnya jika mereka tahu bahwa mereka dapat memercayai kita, ada kemungkinan lebih besar bahwa mereka melakukan  apa yang kita minta  jika kita member tahu mereka bahwa hal lain itu benar-benar penting.

5.        Ubah cara pandang anda, bukan hanya tindakan anda.
Orangtua tak bersyarat tidak hanya bersikap dengan berbeda seperti dengan menghindari penggunaan hukuman. Mereka memandang secara berbeda. Apabila anak melakukan sesuatu yang tidak pants, orangtua bersyarat mungkin malihatnya sebagai pelanggaran, dan pelanggaran secara alami membutuhkan “konsekuensi”.

6.        H-O-R-M-A-T.
Penilaian subjektif saya mengatakan semua orang berhak dihormati. Hipotesis saya adalah bahwa anak-anak lebih mungkin untuk menghormati orang lain (termasuk anda) jika mereka sendiri merasa dihormati.
 
7.        Bersikap wajar
Saya sarankan anda untuk menganggap penting meminta maaf kepada anak tentang sesuatu paling tidak dua kali dalam satu bulan. Mengapa dua kali sebulan? Saya tidak tahu. Menurut saya sepertinya tepat. Alasan pertama itu memberi contoh yang kuat. Yang kedua meminta maaf melepas gelar orangtua sempurna dari diri anda  dan mengingatkan mereka bahwa anda bisa berbuat salah. Sebenarnya meminta maaf menunjukkan kepada mereka adalah mungkin untuk mengakui (kepada diri sendiri dan kepada orang lain) bahwa kita membuat kesalahan, dan bahwa kadang-kadang ada kejadian yang disebabkan oleh kesalahn kita, tanpa merasa malu atau sangat tidak mampu.  


8.        Kurangi bicara, lebih banyak Tanya.
Tugas kita adalah untuk menciptakan perasaan aman itu, untuk mendengarkan tanpa menilai, untuk meyakinkan bahwa mereka tidak akan mendapatkan masalah dengan member tahu kita apa yang telah lakukan atau akan disalahkan karena mempunyai perasaan seperti itu.
 
9.        Ingat selalu usia mereka.
Anak-anak yang sangat kecil memang tidak dapat memahami kewajiban yang dituntut dari sebuah janji, menyuruh mereka bertanggung jawab atas janji mereka, dengan menggunakan istilah yang disukai oleh para pakar usia dini adalah “tidak tepat dari sudut pandang perkembangan”. Sama tidak tealistsinya dengan mengharapkan anak-anak agar tetap diam untuk waktu yang lama. Selalu bergerak, rebut, lupa mematikan mainan yang dioperasikan dengan baterai, dan menjadi terkesima dengan apa yang bagi kita tampak sebagi perubahan kecil dalam lingkungan adalah normal bagi mereka. Kita harus menyeimbangkan harapan kita dengan apa yang mampu mereka lakukan.
 
10.    Anggaplah anak mempunyai motif terbaik yang konsisten dengan fakta.
Kenakalan seringkali dapat dikarenakan kurangnya keterampilan atau bimbingan, keinginan untuk mengeksplorasi tanpa niat jahat dan ketidak mampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi apabila saya mengambil barang itu dan berbuat begini kepada si itu.

11.    Jangan asal mengucapkan kata “tidak”.
Kesempatan untuk belajar tentang batas-batas, untuk menghadapi fakta bahwa orang tidak mungkin untuk mendapatkan segala yang diinginkan, sangatlah banyak. Orangtua tidak perlu menambahinya dengan mengatakan tidak kepada anak ketika mereka mungkin bisa berkata ya.

12.    Jangan kaku.
Lebih dari itu, ingatlah bahwa anak-anak yang cenderung mengeluh tentang kelakuan dan kedengaran seperti pengacara ketika mereka dengan putus asa mengutip situasi situasi  yang meringankan adalah anak-anak yang orang tuanya menggunakan hukuman.

13.    Jangan tergesa-gesa.

Menghindari ketergesasan seringkali lebih mudah daripada yang anda perkirakan, tujuanya adalah memungkinkan anak-anak untuk tidak merasa diburu-buru  sehingga mereka dapat menikmati menjadi anak-anak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WAJIB BACA ... TERHARU..

INFO BEASISWA

RAZIA DOMPET KEMPES