DOKTRIN ANAK-ANAK - APA YANG MENGHALANGI KITA

DOKTRIN ANAK-ANAK -
APA YANG MENGHALANGI KITA




       Semuanya sampai sejauh ini mengarahkan kita pada satu pertanyaan besar: mengapa kita melakukanya? Jika pengasuhan bersyarat dan berdasarkan control benar-benar seburuk seperti yang saya katakan dan yang lebih penting jika pengasuhan tersebut seburuk yang ditunjukkan oleh penelitian ilmiah dan pengalaman nyata maka pengasuhan tersebut bias menjadi begitu popular? Atau dengan kata lain, apa yang menghalangi sebagian besar dari kita untuk menjadi orangtua yang lebih baik.
            Ada empat kategori alsan kita mengasuh anak dengan cara yang kita lakukan: apa yang kita lihat dan dengar, apa yang kita yakini, apa yang kit arasakan dan sebagai hasil dari keseluruhan itu apa yang kita takuti. Label-label ini tidaklah terlalu cepat, dan penjelasanya pun saling tumpang tindih.
APA YANG KITA LIHAT DAN DENGAR

            Semakin kita kurang menyadari proses pembelajaran itu, kita semakin cenderung mengulangi pola-pola  pengasuhan tanpa bersusah payah untuk menanyakan apakah pola tersebut masuk akal. Dibutuhkan usaha keras, pemikiran yang tajam, bahkan keberanian untuk melangkah mundur dan memutuskan nilai dan kebiasaan mana yang sebaiknya diterapkan dalam keluarga baru kita dan mana tidak bertujuan atau bahkan yang merugikan. Jika tidak, kita hanya akan berakhir dengan mengikutu scenario  yang tidak kita ikut ambil bagian dalam penulisanya. Kita akan menjadi seperti tetangga berdinding tembok dalam puisi Robert Frost yang “berjalan dalam kegelapan” karena “dia tidak akan menuruti apa kata sang ayah”. Singkatnya kita harus mampu menjawab pertanyaan, “,mengapa anda melakukan hal itu pada anak anda?” dengan memberikan sebuah alas an daripada hanya mengangkat bahu dan bergumam, “ya, seperti itulah dulu cara saya dibesarkan.”
            Untuk menunjukkan apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar  sebagi sebuah penjelasan atas mengapa kebanyakan dari kita terus berinteraksi dengan anak-anak kita dengan cara yang kurang dikehendaki sebenarnya adalah masuk akal. Tetapi hal ini hanya membuat pertanyaan itu mundur selangkah. Baiklah jawab anda, “jadi kita terpengaruh oleh semua orang lain. Tetapi mengapa mereka memperlakukan anak-anak mereka seperti itu? Apa yang mendorong begitu banyak orangtua  memilih dan menganjurkan pendekatan ini?.
            Karakeristik hakiki dari jenis kedisplinan  yang terburuk menyediakan  sebagian jawaban. Bahkan orang yang paling bijak  dapat terpancing melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Pertama-tama, disiplin yang buruk adalah hal yang mudah. Tidak banyak yangdiminta dari kita ketika kita merespons perilaku tak pantas anak dengan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan pada mereka. Strategi “melakukan sesuatu” sering kali tanpa piker. Sebaliknya, strategi “bekerja keras dengan” menuntut leboih banyak dari kita.  Yang kedua, disiplin yang buruk dapat menjadi “efektif”. Maksud saya dengan hal ini adalah ada banyak situasi diman suap atau diman ancaman atau campur tangan paksaan lainnya dapat membuat anak mematuhi orang dewasa untuk sementara waktu.

APA YANG KITA YAKINI

            Sebagaimana halnya pengaruh orang-orang sekitar, konsekuensi langsung, atau daya tarik yang tampak dipermukaan, dari pendekatan tradisional  dalam membesarkan anak  dapat menjelaskan banyak hal. Namun, saya pikir kita juga harus mempertimbangkan beberapa keyakinan dan nilai yang membuat orang lebih menerima pendekatan itu.

Bagaimana pandangan kita tentang anak-anak



            Selama beberapa tahun terakhir, lebih dari 1,3 juta anak adalah tunawisma di amerika serikat. Antara 22 sampai 26 persen anak digolongkan sebagai penduduk miskin yang jauh lebih tinggi dari pada rata-rata dimasyarakat industry lainya. Orang amerika terus membiarkan oenderitaan nyata yang terbentang dibalik angka-angka statistic ini, dan ini menunjukkan sikap kita terhadap anak-anak, begitu pula dengan banyaknya orang menggeru  mengenai “anak-anak zaman sekarang”. Inilah intinya jika anak-anak secara umum tidak dijaga dengan rasa hormat yang tinggi, akan lebih muda bagi para orangtua, bahkan yang baik sekalipun untuk memperlakukan anak mereka sendiri  secara tidak hormat. Dan karena kita sendiri memupuk pandangan suram tentang anak-anak, kita mungkin juga kurang cenderung.

Bagaimana menurut kita anak-anak diperlakukan

            Kenyataan bahwa beberapa anak terabaikan: dibiarkan sesuka hatinya, dan hampa dari interaksi yang bermakna dengan orang dewasa tidak menjadi bukti bahwa kita hidup dalam budayayang terpusat pada anak atau kebudayaan yang ramah, atau tidak pula berarti bahwa anak-anak terlalu sedikit mengalami frustasi dalam kehidupan mereka. Sesungguhnya anak-anak banyak mengalami frustasi, sebagian besar karena sudut pandang mereka tidak ditanggapi serius. Orangtua yang kelihatanya lupa bagaimana anak-anak mereka mengganggu orang-orang tak dikenal dan terlibat dalam kenakalan sering kali juga lupa  akan kebutuhan anak-anak mereka. Itu bukan argument untuk meningkatkan kedisplinan, melainkan bago orang dewasa untuk meluangkan waktu lebih banyak dengan anak-anak untuk lebih banyak member mereka bimbingan, dan memperlakukan mereka dengan lebih hormat.

Persaingan

            Lebih jauh lagi, hubungan kita dengan anak kita mungkin jadi tampak seperti hubungan menang atau kalah (zero-sum-terms). Banyak buku mengenai kedisplinan memandu bagaiman memenangi peperangan kita dengan mereka, bagaiman mengakali mereka dan membuat mereka menuruti tuntutan-tuntutan kita, sehingga memungkinkan kita untuk menjadi pemenang. Pertanyaan yang sebenarnya, tentu saja adalah apakah kita memang sungguh memandang anak sebagai lawan untuk dikalahkan. Jika kita bertanya-tanya mengapa hubungan orangtua dan anak begitu sering melibatkan permusuhan, kita harus memahami ini sebagai satu lagi gejala dari sebuah masyarakat yang terlalu bersaing. Orangtua yang paling cenderung untuk mengontrol anak-anak mereka, dan yang paling banyak merusak anak-anak mereka, adalah mereka yang butuh untuk menang.

Kemampuan anak-anak

            Penelitian menegaskan bahwa orangtua yang “menghubungkan kompetensi dan tanggungjawab yang lebih besar pada anak-anak yang berkelakuan buruk “lebih cenderung untuk marah-marah kepada mereka, menyalahgunakan, dan menghukum mereka. Mereka frustasi denag apa yang mereka lihat sebagai perilaku yang tidak sesuai  dan karnanya mereka menanggapi  dengan bertindak keras pada anak kecil karena mereka anak kecil. Orangtua yang memakai anak mereka dan mengandalkan tidakan-tindakan yang memaksa, mungkin melakukan itu sebagian karena mereka memegang harapan tinggi yang tidak realistis tentang dengan perilaku. Harapan tak realistis yang serupa terkadang juga muncul untuk bidang kecakapan intelektual.

keseragaman  

            semakin orang-orang dalam sebuah kebudayaan menginginkan anak-anak untuk tunduk pada aturan-aturan tradisional (bukan pada pikiran mereka sendiri), semakin besar kemungkinanya, menurut penelitian, mereka akan menggunakan hukuman fisik.

Keadilan sebagai imbalan
       
            Banyak orang percaya bahwa ketika satu individu, bahkan anak kecil, melakukan hal yang buruk, maka hal yang buruk itu harus dilakukan kepada individu itu sebagai balasanya. “gagasan untuk membuat seseorang yang bersalah merasa menderita karena kejahatanyannya berakar dari praktik “balas dendam darah” dalam masyarakat primitif.

Agama

            Tidak terdapat hubungan satu-satu antara keyakinan agama dan filosofi pengasuhan. Orang-orang dari beragam kepercayaan, dan orang –orang yang tidak religius sama sekali, terlihat memperlakukan anak mereka dengan macam-macam cara. Namun, tidak ada sangkalan bahwa pendekatan yang otoriter berakar kuat didalam sistem  kepercayaan agama tertentu.


Memikirkan salah satu dari dua
            Secara abstrak kebanyakan kita akan setuju bahwa sesuatu yang berada diantar dua pendapat yang  vekstrim akan lebih baik  dan pada beberapa masalah, saya sangat menganjurkan  sebuah cara ketiga tetapi kita jangan sampai terbujuk  menerima saran-saran  orang lain karena saran tersebut ditempatkan di antara pilihan-pilihan yang lucu.

APA YANG KITA RASAKAN

Pada kenyataanya cukup banyak penelitian menunjukkan bahwa gaya-gaya pengasuhan dasar seseorang : ”sudah ada sebelum (mereka) mendapat pengalam langsung dengan keturunan mereka sendiri”. Gaya-gaya ini mengakar kuat didalam pengalaman yang mereka dapatkan pada waktu lampau.

APA YANG KITA TAKUTKAN
Ketakutan akan ketidakmampuan menjadi orangtua
            Ketakutan akan ketidak mampuan menyebabkan beberapa orangtua mengalah terhadap semua permintan anak-anak mereka yang tentu saja, sangat berbeda artinya dengan memenuhi kebutuhan mereka dan bekerja sama dengan mereka untuk memecahkan masalah.

Ketakutan akan ketidakberdayaan
        Setiap kita pernah benar-benar rentan dan bergantung pada orang lain. Pada tingkatan bawah sadar, beberapa orang takut bahwa jika lapisan tipis keddewasaan ini hancur, waktu akan berjalan munduir dan mereka akan kembali dan menjadi tidak berdaya. Mereka menghadapi ketakutan itu dengan berpura-pura kalu mereka tidak rentan sebagai orang dewasa. Karena lepas kendali itu menakutkan, mereka perlu untuk yakin bahwa merekaselalu terkendali. 
Ketakutan akan dihakimi
        Ada kemungkinan yang lebih besar bagi orang-orang dalam budaya kita untuk menyalahgunakan orangtua karena kurang mengontrol daripada terlalu mengontrol  dan untuk menyetujui  anak-anak karena mereka “bersikap baik” daripada karena mereka, katakanlahmempunyai sifat ingin tahu. Jadi, apabila anda gabungkan kecemasan orangtua akan dihakimi dengan arah yang mungkin dari penghakiman itu, anda akan mendapatkan fakta yang tidak mengejutkan: kita sangat mungkin menggunakan taktik-taktik yang bersifat memaksa dan berfokus pada kebutuhan untuk mengontrol anak ketika kita sedang berada ditempat umum.

Ketakutan akan keselamatan anak-anak kita
            Semua orangtua yang peduli merasa kwatir tentang anak-anak mereka , terutama ketika Koran-koran penuh dengan cerita menyeramkan tentang hal-halk burukyang menimpa orang –orang yang baik. Sampai saya menjadi orangtua, saya tidak menyadari betapa sulitnya mengetahui kapan keprihatinan itu pantas dan kapan berlebihan  serta kapan respons  kita melampaui garis yang membagi  antar tindakan kewaspadaan yang masuk akal dengan perlindungan yang berlebihan.

Ketakutan akan memanjakan anak
            Ketakutan akan memanjakan anak adalah sepupu pertama dari ketakutan bahwa anak-anak kita akan ketinggalan.

Ketakutan akan sikap permisif (serba membolehkan)
            Ada hubungan empiris yang kuat antara asumsi dan ketakutan, disatu sisi dan praktik pengasuhan anak disisi lain, sebagai contoh, ibu-ibu yang percaya bahwa bayi bisa manja karena tertlalu banyak kasih sayang. Sesungguhnya cenderung menyediakan lingkungan yang kurang bersifat mendukung.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

WAJIB BACA ... TERHARU..

INFO BEASISWA

RAZIA DOMPET KEMPES